Milenianews.com, Jakarta – Empat siswa Indonesia berhasil meraih prestasi gemilang pada ajang International Biology Olympiad (IBO) ke-34 di Uni Emirat Arab. Sebagai apresiasi, siswa dapat beasiswa dari Kemendikbud Ristek. Dalam kompetisi tersebut, dua siswa meraih medali perak, yaitu Calvin Shevchenko dari SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya dan Nicholas Sidik dari SMA Methodist 2 Medan.
Sementara itu, Nakeisha Jovita Purnomo dari SMAK Penabur Gading Serpong dan Mariel Chrysantha Tampubolon dari SMAN 2 Kota Tangerang Selatan meraih medali perunggu.
Baca juga : Mahasiswa RI di Jepang Berhasil Memberikan Beasiswa dengan Hasil Penjualan Jagung
Prestasi ini juga memberikan kesempatan pada ketiga siswa tersebut untuk mendapatkan Beasiswa Indonesia Maju. Hendarman, Plt Kepala Pusat Prestasi Nasional Kemendikbud Ristek, menyampaikan kebanggaannya atas pencapaian ini. Para siswa telah menunjukkan dedikasi dan kecemerlangan dalam bidang biologi.
“Satu di antara mereka yaitu Mariel Chrysantha Tampubolon akan berangkat ke University of California San Diego, Amerika Serikat, pada September tahun ini. Jadi ini merupakan bukti bahwa Kemendikbud Ristek merekrut siswa berprestasi untuk mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi melalui beasiswa,” tutur Hendarman dalam keterangannya, dikutip Kamis (13/7).
Ada satu siswa yang belum mendapatkan Beasiswa Indonesia Maju (BIM) karena masih berada di kelas XI. Namun, siswa tersebut akan memiliki kesempatan untuk mengikuti proses seleksi BIM saat berada di kelas XII. Dengan demikian, siswa tersebut memiliki peluang untuk mendapatkan BIM di masa mendatang.
Beasiswa kuliah di Amerika
Mariel Chrysantha Tampubolon, seorang siswi dari SMAN 2 Kota Tangerang Selatan, merasa sangat senang dan berterima kasih atas kesempatan untuk meraih medali perunggu di IBO. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Kemendikbudristek yang telah memberikan dukungan sehingga ia dapat meraih prestasi tersebut. Selain itu juga memperoleh beasiswa kuliah di University of California San Diego, Amerika Serikat.
Mariel mengungkapkan bahwa ia belajar banyak dari pembimbingnya dan terus berusaha untuk memperluas pengetahuannya. Mariel berharap agar siswa Indonesia yang ingin tetap semangat meraih pencapaian yang lebih tinggi.
Atmosfer Olimpiade Biologi Internasional
Nicholas Sidik, siswa yang meraih medali perak dalam IBO ke-34, merasa bangga dengan pengalamannya yang menyenangkan dalam kompetisi internasional ini. Ia berkompetisi bersama 300 siswa dari 89 negara yang berbeda.
Nicholas dan siswa-siswa lainnya mengikuti tes praktikum dan tes teori yang penilaiannya setara. Terdapat empat topik yang diuji, seperti biologi molekuler tumbuhan, bioinformatika, ekologi-etologi, dan biokimia. Setiap siswa diberikan waktu 90 menit untuk menjalankan eksperimen berdasarkan soal dari panitia.
Baca juga : Sukses! Gilbert Mahasiswa UPH Mendapatkan Beasiswa IISMA di Australia
Selain itu, pada tes teori, peserta mendapat waktu 3-3,5 jam untuk menganalisis dan menyelesaikan masalah yang terkait dengan berbagai aspek biologi. Tes ini mencakup pemahaman konsep, pengetahuan praktis dan analitis, serta penerapan aplikasi biologi.
“Bisa mengikuti IBO itu sangat menyenangkan. Teman-teman di sana sangat beragam dan menyenangkan, semuanya seru,” tutur Nicholas.
Nicholas menganjurkan untuk sering berlatih mengerjakan soal-soal. Baik yang ada di buku maupun yang tidak terdapat di buku sebagai latihan tambahan.
Lima pendamping siswa Indonesia juga berperan sebagai juri internasional dalam kompetisi ini. Mereka adalah Agus Dana Permana, Ahmad Faizal, dan Dian Rosleine dari SITH-ITB, serta Titis Setiyobudi dan Fauzi Ramadhani Nasution dari TOBI.
Menurut Ahmad Faizal, keikutsertaan juri internasional dalam mendesain soal IBO di Uni Emirat Arab merupakan langkah yang meningkatkan kualitas soal kompetisi ini. Tim Olimpiade Biologi Indonesia akan mengevaluasi prestasi mereka di IBO 2023. Tidak hanya itu, mereka akan merencanakan strategi untuk meraih medali emas di IBO 2024 yang akan berlangsung di Astana, Kazakhstan.
Baca juga : Kemenag Hadirkan Beasiswa untuk 1.000 Santri Berprestasi
Tatang Muttaqin, Staf Ahli Mendikbudristek Bidang Manajemen Talenta, mengatakan bahwa Kemendikbudristek memiliki Sistem Informasi Manajemen Talenta (SIMT) untuk memantau siswa berbakat. SIMT ini berguna sebagai acuan dalam seleksi Beasiswa Indonesia Maju (BIM) berdasarkan prestasi siswa.
Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.