Bordir Asal Tasikmalaya Tembus Pasar Jepang sampai Amerika

Bordir Asal Tasikmalaya Tembus Pasar Jepang sampai Amerika

Milenianews.com – Bordir merupakan salah satu produk unggulan dari Tasikmalaya. Bordir Tasikmalaya sudah terkenal di tanah air hingga ke mancanegara. Industri ini menjadi salah satu penopang perekonomian banyak masyarakat di Tasikmalaya.

Walapun pada zaman modern ini kejadinan bordir sudah menjadi lebih modern pula, ternyata masih ada perajin yang justri membordir sebagai karya seni dan tidak hanya sebagai komoditas sementara.

Baca juga : Pertama Kalinya, Indonesia Ekspor Mobil Listrik

Pengrajin inilah yang masih bertahan dengan cara pembuatan manual alias masih dengan mesin jahit yang sering masyarakat sebut mesin juki. Ia mengaku metode pembuatan bordirnya memang ketinggalan jaman karena saat ini mayoritas pengrajin sudah menggunakan mesin otomatis yang bisa produksi massal.

“Kami memandang bordir sebagai karya seni, makanya kami tetap bertahan meproduksi bordir manual seperti ini, pakai mesin juki. Kalau saya membuat kain bordir untuk satu stel pakaian bisa satu minggu, beda sama yang pakai mesin komputer, tidak sampai satu jam bisa beres raturan helai kain bordiran,” ungkap Epi Siti Mudrika pengrajin asal Cienteung Kota Tasikmalaya mengutip dari Detik.com, Rabu (1/3).

Walaupun begitu, Epi juga mengaku tidak khawatir akan kalah dalam persaingan, karena menurunya bordir manual memiliki target pasar tersendiri. Ia mengibaratkan bordir manual dan mesin komputer seperti batik tulis dan batik printing yang memiliki beda segmen, kualitas dan pembeda lainnya.

“Keunggulan bordir menual itu ekslusif, motifnya tidak akan sama dengan orang lain. Karen aproduksinya terbatas. Beda sama bordir mesin komputer yang diproduksi massal. Iya mirip batik tulis sama batik printing saja,” katanya.

Dia juga mengklaim bahwa kekuatan atau kualitas bordir manual lebih bagus dibandingkan bordir otomatis, karena dikerjakan oleh tangan-tangan pengrajin yang berpengalaman.

“Pengakuan konsumen kami ada kebanggaan kalau pakai bordir manual. Desainnya ekslusif, bahannya bagus. Apalagi untuk desain juga kami patenkan, sehingga tidak akan ada yang sama dengan produk lain,” Kata Epi.

Baca juga : Jaket G20 Presiden, Produk Keren Karya Anak Bangsa

Bordir Tasikmalaya Tembus Pasar Internasional

Kerajinan bordir manual ini dijual dengan harga yang cukup bervariatif, mulai dari harga Rp 500 ribu hingga Rp 8 juta untuk satu stel pakaian.

“Harganya macam-macam, untuk satu gaun yang full bordir bisa sampai Rp 8 juta. Yang murah juga ada, tergantung motif, bahan dan ukuran,” unkap Epi.

Hasil produksi bordir yang Epi lakukan sudah cukup terkenal hingga ia berhasil menjualnya sampai ke luar negeri. Ia juga mengaku akan tetap bertahan dengan metode ini untuk melestarikannya.

Baca juga : IPB University Ekspor Perdana Tempe Beku 17,2 Ton ke Korea Selatan

“Ekspor produk sudah sering. Ke Malaysia, Amerika, Jepang, Kanada dan lainnya. Jual sehelai pun kan bisa kita sebut ekspor,” ungkapnya.

“Saya akan tetap melestarikan metode pembuatan bordir manual. Berkarya bersama teman-teman pengrajin yang luar biasa. Sekarang sudah susah lo mencari pengrajin yang bisa membordir manual, semua sudah terganti oleh peralatan canggih,” kata Epi.

Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *