Milenianews.com, Jakarta – Gempa Turki yang terjadi Senin (6/2) kemarin, dengan kekuatan 7,8 magnitudo menewaskan lebih dari 3.800 orang di Turki dan Suriah. Gempat juga terasa guncangannya sampai Suriah.
Wakil Presiden Turki, Fuat Otkay mengatakan bahwa, sebanyak 2.379 orang ditemukan tewas dan 14.438 lainnya luka-luka.
“Sebanyak 7.840 orang berhasil di evakuasi hidup-hidup dari puing-puing setelah 4.748 bangunan hancur,” kata Otkay mengutip dari AFP.
Baca juga : Gempa Guncang Turki, Erdogan Minta Bantuan Internasional
Sementara itu di Suriah, pemerintahnya melaporkan kurang lebih 1.444 orang ditemukan tewas dan 3.500 orang luka-luka. Dari dua negara tersebut, maka jumlah korban tewas akibat gempa memiliki total mencapai 3.823 jiwa.
Penyelamatan korban gempa Turki terhambat akibat cuaca ekstrem
Upaya penyelamatan korban di Turki terhambat akibat adanya badai salju musim dingin yang sedang menutupi jalan utama dengan es dan salju.
Mengutip dari Reuters, koneksi internet di wilayah sekitar sedang buruk dan jalan utama rusak yang menjadi akses penghubung antar kota yang terdampak. Terdapat beberapa daerah tertentu yang suhu udaranya menurun hingga berada pada titik beku dalam semalam.
Hal tersebut di yakini dapat memperburuk kondisi orang-orang yang masih terjebak atau kehilangan tempat tinggal. Setelah badai salju melanda Turki akhir pekan lalu, hujan turun di hari Senin (6/2) setelahnya.
Dengan kondisi cuaca yang sedang ekstrem, banyak warga yang takut untuk kembali ke tempat tinggal mereka untuk sekadar mengambil pakaian hangat. Warga akhirnya nekat untuk bermalam di jalanan meski suhu udara turun hingga di bawah nol derajat celsius.
Beberapa dari mereka juga memilih untuk berkerumun di sekitar api unggun untuk mendapatkan kehangatan di tengah musim dingin. Salah satu warga yang berkerumun di sekitar api unggun ialah Mustafa Koyuncu di kota Sanliunrfa, Turki.
Baca juga : FOZ, BMH dan UGM Sinergi Bantu Warga Penyintas Gempa Cianjur dengan Gelar Pelatihan Retrofitting
Ia duduk berkerumun bersama istri dan kelima anaknya karena takut untuk kembali ke tempat tinggal mereka. “Kami menunggu di sini karena kami tidak bisa pulang, semua orang takut,” ujar pria berusia 55 tahun itu.
Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.