Milenianews.com, Pontianak – Kebutuhan akan sebuah sistem informasi yang mempermudah dan membantu kegiatan manusia semakin meningkat seiring dengan perkembangan teknologi saat ini. Teknologi sistem informasi yang dulunya hanya bisa diakses menggunakan laptop atau notebook, kini bisa diakses dalam genggaman tangan dengan memanfaatkan smartphone. Sehingga kebutuhan akan mobile application semakin meluas.
Atas dasar itu, Kampus Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Pontianak, menggelar workshop daring, bertajuk ‘Pemanfaatan Docker Sebagai Arsitektur Aplikasi Berbasis Microservice’. Ade Hendini, dosen Kampus UBSI Pontianak dihadirkan sebagai narasumber.
Baca Juga : Bukti UBSI sebagai Kampus yang Peduli terhadap Karir Alumninya
Ade menjelaskan, mobile application adalah proses pengembangan aplikasi untuk perangkat genggam (ponsel). Aplikasi ini sudah tersedia dari pabrikannya. Namun, bisa juga di download oleh pelanggan dari toko aplikasi dan dari distribusi perangkat lunak mobile platform yang lain.
Lanjutnya, untuk membangun mobile application, ada teknologi yang memberikan solusi untuk membangun sebuah aplikasi yang efesien dan efektif dalam proses pengembangannya, yakni ‘Microservice‘.
“Microservice berfokus mengerjakan satu pekerjaan dengan baik. Sifatnya yang independent membuatnya mudah di deploy dan diubah tanpa bergantung pada aplikasi lain. Serta setiap komponen pada sistem dibuat dalam service,” ujar Pria yang berkompeten dalam bidang web programming ini, Jumat (04/09).
“Selain microservice, juga terdapat monolithic yang arsitekturnya mampu membuat komponen aplikasi tidak terpisahkan satu sama lainnya,” tambahnya. Namun, monolithic memiliki beberapa kekurangan, diantaranya scalling development dengan banyak developer agak sulit serta Running app monolith sangat berat.
Teknologi Docker, solusi teknologi untuk bangun Mobile Application dengan efektif
Solusinya, dengan pembuatan mobile aplication, akan dibangun secara lebih mudah dengan teknologi Docker.
Docker sendiri, adalah sebuah kontainer berbasis aplikasi, yang punya fitur freindly, khususnya bagi development dan operations. Selain itu, Docker juga menyediakan registry (docker hub) yang berfungsi untuk tempat penyimpanan images docker pada cloud based.
Baca Juga : UBSI masuk 50 Kampus Terbaik di DKI Jakarta 2020 versi LLDikti Kemendikbud
“Image Docker dibangun dengan 2 cara, yakni pertama menggunakan Dockerfile dengan format penulisan ‘yaml’ yang digunakan docker engine untuk membuat suatu image berdasarkan baris perintah dan konfigurasi file. Cara kedua yaitu, melalui docker-commit yang memiliki kemiripan dengan melakukan commit pada git versioning system,” imbuh Ade. (Lady Agustine)