News  

Kronologi Kematian George Floyd yang Memicu Amarah Warga AS

George Floyd

Milenianews.com, Jakarta – George Floyd menjadi perhatian masyarakat dunia, setelah videonya viral tersebar di sosial media. Ia menerima perlakuan rasisme dari oknum polisi di Minneapolis, Amerika Serikat.

Derek Chauvin, oknum polisi yang mencekik leher George dengan lututnya sampai meninggal dunia, menambah catatan rekam jejak buruknya.

Goerge sendiri dikenal sebagai sosok yang penyayang, baik hati, dan peduli terhadap sesama. Atas perlakuan tersebut, aksi kerusuhan warga AS pun tak terbendung, sampai meluas ke banyak wilayah di Amerika.

Kronologi George Floyd mendapat perlakuan Rasis

Foto : Aksi kekerasan 4 oknum polisi terhadap George Floyd sampai tewas.

Saat itu, pihak kepolisian hendak menangkap Floyd setelah mendapat laporan bahwa ia diduga terlibat kasus pemalsuan uang. Ada juga yang menyebut bahwa Floyd menggunakan kupon kadaluarsa.

Namun, kejadian tak terduga dialaminya saat Chauvin mencekik leher Floyd dengan lututnya di belakang mobil polisi.

Floyd pun sempat memohon-mohon agar polisi memberinya kesempatan untuk bernafas. Namun, Floyd tidak dilepaskan sampai tewas.

Sampai ambulans pun tiba, polisi masih menindih Floyd. Warga disekitar yang melihat pun, juga meminta polisi untuk melepaskan Floyd, tetap tidak dihiraukan.

Bahkan, rekan Chauvan menghalangi warga yang mendekat hendak ingin menolong Floyd.

Empat polisi yang terlibat dalam aksi rasis tersebut, telah dibebas tugaskan menurut jubir Kepolisian Minneapolis, Garret Parten.

Disamping itu, Wali Kota Menneapolis, Jacob Frey juga mendukung keputusan penuh pihak kepolisian.

“Teknik yang digunakan tidak diizinkan. Ini bukan teknik yang dilatih oleh petugas kami,” katanya.

Demonstrasi terjadi dimana-mana

Foto : Aksi demonstran terjadi di banyak wilayah di Amerika Serikat.

Lebih dar 1.000 orang ikut dalam aksi protes terkait kasus Floyd. Sampai massa memblokade lalu lintas dan jalan raya antarnegara bagian.

Di Atalanta, massa semakin brutal, membuat aksi demontrasi menjadi kacau. Kantor media CNN dirusak dan satu mobil polisi dibakar.

Polisi mencoba membubarkan massa namun para demonstran balik melempar botol ke petugas.

Ratusan orang pun melanggar jam malam di AS, yang diberlakukan pukul 20.00 untuk berkumpul di jalan-jalan.

Banyak yang meneriakkan, “Tanpa keadlilan, tidak ada perdamaian.” Beberapa membawa poster bertuliskan, “Akhiri kebrutalan polisi”, dan “Aku tidak akan berhenti berteriak sampai semua orang bisa bernapas.”

Beberapa kendaraan tampak berputar menghindari kerumunan itu. Lalu lintas pun dihentikan dan menyebabkan banyak kemacetan di daerah tersebut.

Sosok George Floyd

Foto : Goergo Floyd di mata keluarga dan temannya.

Floyd menjadi sosok yang penyayang dan baik hati di mata teman dan keluarganya. Ia bekerja di sebuah restoran dan punya reputasi sebagai orang yang selalu membantu siapapun yang kesulitan.

Floyd yang merupakan penduduk asli Houston, tumbuh dan besar di sana dan lulus dari Sekolah Menengah Jack Yates tempat ia bermain sepakbola.

Dia pindah ke Minnesota untuk bekerja dan mengendarai truk, menurut teman dan mantan pemain NBA, Stephen Jackson.

“Dia tahu dia harus pindah untuk menjadi yang terbaik,” tulis Jackson di Instagram.

“Perbedaan antara saya dan kawan adalah saya memiliki lebih banyak peluang daripada dia,” tulis Jackson, yang memenangkan kejuaraan bersama San Antonio Spurs pada 2003 silam.

Floyd bekerja di divisi keamanan di Conga Latin Bistro Minneapolis selama lima tahun.

“Dia dicintai oleh semua karyawan dan pelanggan saya,” kata Jovanni Thunstrom, bos Floyd.

Baca Juga : Bill Gates Dituduh Sebagai Pembuat Virus Corona? Berikut Kronologinya

“Saya melihat video itu dan mengatakan itu bukan Floyd, tetapi kemudian terkejut. Itu Floyd. Dan saat itulah saya tersadar, itu sangat memukul saya,” kata Thunstrom.

Dia bercerita bahwa Floyd sering membantunya membersihkan bar setelah tutup.

Di matanya, Floyd adalah sosok yang mencintai orang-orang ‘terbuang’ yang sedang dalam keadaan terpuruk.

“Kami berdoa setiap kali makan, kami berdoa jika kami mengalami kesulitan, kami berdoa jika kami bersenang-senang,” kenang Thunstrom. (Ikok)

Sumber : Tribunnews

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *