Mengenal Khalifah Umar bin Khattab

Umar Bin Khattab

Milenianews.com – Umar bin Khatthab bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Riyah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luai, dan nama panggilan beliau adalah Abu Hafsh al-Quraisy al-‘Adawi.

Ia dijuluki Abu Hafsh—ayah Hafshah, perempuan mulia yang menjadi istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hafshah dinikahi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan janda karena ditinggal mati suaminya, Khunais ibn Hudzafah as-Sahami, seorang pahlawan yang gugur dalam perang Badar.

Selain dijuluki Abu Hafsh, Umar juga dijuluki Al-Faruq, sang pembeda. Julukan ini adalah pemberian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Nu’aim Al-Ashbahaniy rahimahullah dalam Hilyah Al-Auliyaa’ 1/40 dari Ibn Abbas,

Abdullaah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Ketika ‘Umar memeluk Islam, berkumpulah orang-orang di sisi rumahnya, mereka berkata, ‘Umar telah murtad!’ dan aku ketika itu adalah seorang anak kecil yang sedang berada di atap rumahku. Kemudian datanglah seorang laki-laki kepada mereka, ia mengenakan jubah yang terbuat dari sutera, ia berkata, “Umar memang telah murtad, ada apa dengan hal itu? Aku adalah pelindungnya!” Maka aku melihat orang-orang pun meninggalkannya. Aku bertanya, “Siapakah itu?” Orang-orang menjawab, “Dia Al-‘Aash bin Waa’il.” (Shahih Al-Bukhari 2/760).

Namun, kisah yang diriwayatkan Bukhari di atas—dan juga kisah serupa yang diriwayatkan oleh yang lainnya—nampaknya hanya menceritakan kisah pasca Islamnya Umar. Sedangkan kisah-kisah yang secara gamblang menceritakan awal Islamnya Umar adalah hadits-hadits yang dinilai dhaif di atas. Wallahu A’lam.

Hari-hari Bersama Nabi

Setelah memeluk Islam, Umar berubah menjadi pribadi yang sederhana, zuhud, dan jauh dari kemewahan duniawi. Ia menjadi sahabat terdekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. dan menjadi pembela Islam yang tangguh. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Semenjak Umar memeluk Islam, kami senantiasa berada dalam kejayaan.”

Ketika umat Islam hendak hijrah dari Makkah ke Yatsrib (Madinah) karena tekanan dan ancaman kaum Quraisy, Nabi menyerukan kepada para sahabatnya agar berangkat diam-diam dan berpencar karena khawatir hadangan musuh.

Baca Juga : [Kisah Ramadan]: Pura-pura Buka Puasa Berujung Pahala

Namun, kepada kaum Quraisy, Umar justru mengumumkan rencananya untuk  berangkat hijrah dan mengancam kepada mereka yang berani menghalang-halanginya, “Wahai wajah yang muram! Barangsiapa ingin ibunya kehilangan anak, dan anaknya menjadi yatim, atau istrinya menjadi janda, temuilah aku di belakang bukit ini besok pagi!.”

Setelah berdirinya daulah Islam di Madinah, Umar bin Khattab dipercaya menjadi juru tulis Nabi. Setiap kali Nabi menerima wahyu dialah yang segera menuliskannya.

Umar Bin Khattab
Mengenal Umar bin Khattab.

Umar mengikuti berbagai peristiwa penting dalam perjuangan dakwah. Ia terlibat dalam perang Badar. Pasca peperangan ini, Umar-lah yang mengusulkan agar musuh yang berhasil di tawan dibunuh semuanya, seimbang dengan kekejaman mereka terhadap Islam.

Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih cenderung kepada pendapat Abu Bakar; tawanan kaya diwajibkan menebus dirinya masing-masing lalu dilepaskan, sementara yang miskin dan tak berbahaya dilepaskan saja tanpa tebusan. Kemudian turunlah ayat yang memihak usulan Umar: “Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal, 8: 67).

Umar pun terlibat dalam perang Uhud dan perang Khandaq. Ia pun menjadi saksi peristiwa perjanjian Hudaibiyah.

Umar termasuk yang merasa kecewa dengan isi perjanjian tersebut karena dianggap merugikan kaum muslimin. Ia menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Bukankah Engkau benar seorang Nabi Allah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tentu.”

Umar bertanya lagi, “Bukankah kita di atas kebenaran sementara musuh berada di atas kebatilan?” Beliau menjawab, “Tentu”.

“Kalau begitu, kenapa kita memberikan kerendahan pada agama kita?” tanya Umar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah, dan Aku tidak akan mendurhakai-Nya dan Dialah penolong-Ku”.

Umar kemudian bertanya, “Bukankah Engkau telah mengatakan bahwa kita akan mendatangi Ka’bah kemudian kita melakukan ibadah thawaf di sana?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Benar, (akan tetapi) apakah aku mengatakan kepadamu bahwa kita akan mendatangingya pada tahun ini ?”

Umar menjawab, “Tidak!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau akan mendatanginya dan melakukan thawaf.”

Umar kemudian mendatangi Abu Bakar dan mengutarakan perkataan yang sama seperti yang diutarakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Abu Bakar mengingatkan Umar, “Sesungguhnya ia adalah benar-benar utusan Allah dan dia tidak sedang menyelishihi Rabbnya dan Dialah penolongnya, patuhilah perintahnya ! Demi Allah Azza wa Jalla sesungguhnya ia di atas kebenaran.”

Ketika Umar menyadari kesalahannya ini, ia merasakan penyesalan mendalam dalam hatinya. Sehingga sejak saat itu, Umar memperbanyak ibadah kepada Allah Azza wa Jalla berharap keburukannya itu bisa terhapus dan digantikan dengan kebaikan.

Ia mengatakan, “Aku terus berpuasa, bersedekah dan memerdekakan budak (sebagai tebusan) dari apa yang telah aku perbuat, karena aku merasa cemas terhadap ucapan yang pernah aku ucapkan kala itu, sehingga saya berhadap itu menjadi kebaikan”.

Umar juga menyaksikan peristiwa Futuh Makkah, ia mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menerima baiat dari penduduk Makkah.

Baca Juga : Mengejutkan! Ustaz Abdul Somad Talak Cerai Istrinya

Peristiwa yang paling menyedihkannya adalah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam keadaan emosi yang memuncak Umar berkata, “Sesungguhnya beberapa orang munafik telah menganggap bahwa Muhammad telah meninggal dunia. Tidak. Sesungguhnya beliau tidk meninggal, tetapi pergi ke hadapan Tuhannya seperti yang dilakukan Musa yang pergi selama empat puluh hari dari kaumnya, lalu kembali lagi kepada mereka. Demi Allah, sesungguhnya Rasulullah akan kembali. Barangsiapa mengatakan beliau sudah mati, akan kupotong kedua kaki dan tangannya.”

Perkataannya itu kemudian dibantah oleh Abu Bakar, “Barangsiapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah mati. Barangsiapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah Mahahidup tidak akan mati. Allah berfirman: ‘Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.’”

Hari-hari Bersama Abu Bakar

Umarlah yang mendampingi Abu Bakar dalam peristiwa Saqifah Bani Sa’adah, taat dan setia mendampingi saat terjadi peristiwa pemberontakan kaum yang tidak mau membayar zakat; ia pula yang mengusulkan penghimpunan Al-Qur’an, mendampinginya dalam melakukan futuhat di luar jazirah Arab.

Keutamaan Umar bin Khattab

 

Pertama, salah satu sahabat yang dijamin masuk surga.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga. …” (HR at-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani di dalam Shahih al-Jami ash-Shaghir no. 50.)

Kedua, mendapatkan pujian langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau bersabda,

 “Jika seandainya ada Nabi setelahku, maka ia adalah ‘Umar.” (HR at-Tirmidzi, Al-Hakim, Ahmad, dan yang lainnya. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 327.)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

 “Sungguh dahulu di antara umat sebelum kalian ada beberapa Muhaddatsun (yaitu orang-orang yang diberi ilham / firasat yang benar). Seandainya ada seseorang di antara umatku, maka sesungguhnya dia adalah Umar.” (HR al-Bukhari no. 3486)

Ketiga, laki-laki yang ditakuti oleh setan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Sungguh aku melihat setan-setan dari kalangan jin dan manusia lari (kabur) dari Umar.” (HR at-Tirmidzi, hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani di dalam Misykatul Mashabih yang ditahqiq oleh beliau.)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

 “Wahai ‘Umar bin Al-Khaththab, demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, tidaklah ada satu pun setan yang bertemu denganmu di suatu jalan melainkan dia akan mencari jalan yang lain yang tidak dilalui olehmu.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Keempat, dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya serta segenap kaum Muslimin

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu di antara kedua orang yang paling Engkau cintai, yaitu Abu Jahal bin Hisyam atau Umar bin Al-Khaththab. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Dan ternyata yang lebih Allah cintai di antara keduanya adalah Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu.”” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Imam Ahmad. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani.) (Umi)

sumber : tarbawiyah.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *