Pertarungan Ekonomi Global dan Usaha Manusia Mematikan Tuhan

Mata Akademisi Milenianews

Mata Akademisi, Milenianews.com – Melihat sebuah fenomena yang sangat luar biasa hari ini. Suatu pembahasan yang menarik dari  perjalanan panjang antara Kapitalisme yang dipelopori Oleh John Adam Smith. Perkembangan sistem ekonomi tersebut sampai hari ini yang hampir menguasai perekonomian Global.

Juga kita melihat bagaimana awal kemunculan pemikir sosialisme yang populer seperti Karl Marx. Marx mengatakan bahwa Kapitalisme sebagai sistem ekonomi akan hancur dan harus digantikan oleh komunisme, seperti juga kapitalisme dulu menghancurkan Feodalisme, maka begitu juga Komunisme akan menghancurkan Kapitalisme lewat jalan revolusi Kaum Proletar (rakyat jelata).

Komunisme-nya dipakai oleh kaum Bolshevik yang tertindas di Russia dan berhasil menumbangkan Kerajaan Russia lewat jalan Revolusi, (Revolusi Oktober 1918).

Baca Juga : Bahagia dan Cemas dalam Bingkai Corona

Pola pikir Marx sangatlah dipengaruhi oleh pemikiran orang-orang Materialisme. Makanya dia terlalu amat dalam melihat sosial itu bahkan berani mengatakan antara agama dan negara sama saja mempunyai legitimasi dan faktor pendukung otoritas.Paham yang merevolusi pemikiran manusia itu adalah Marx dan juga Adam Smith.

Marx begitu keras menolak Kapitalisme yang dianggap sebagai sistem ekonomi yang akan merugikan kaum buruh karena hanya merujuk pada pemilik modal yang akan semakin kaya. Sosialisme sangat anti pada kapitalisme dan berusaha mendobrak sistem ekonomi kapitalis yang semakin menguasai perekonomian Dunia.

itu sedikit pengantar untuk kita paham terkait sosialisme dan kapitalisme. Akankah kapitalisme mundur dan sosialisme akan semakin berkembang atau bahkan tergantikan oleh saintisme?

Saya melihat saintisme dari peluangnya dan kesempatan mempengaruhi peradaban dunia jika kita melihat fenomena Global hari ini. Manusia di hantam oleh non-manusia (Covid-19) yang bisa memundurkan perekonomian global.

Pemerosotan ekonomi akan terjadi karena lockdown di setiap negara di dunia. Maka perputaran uang akan berhenti dan akan banyak merugikan segala sektor ekonomi. Inilah penyebab akan adanya Kemunduran dari percepatan laju kemajuan ekonomi.

persaingan antara China dan Amerika untuk menguasai sektor ekonomi sangat jelas kita lihat. Bagaimana negara berkembang seperti China bisa menjadi negara maju begitu cepat bahkan mampu menjadi Negara yang menjadi saingan Amerika di sektor ekonomi. Sehingga muncul banyak pandangan siapa dalang dibalik virus Corona yang menakuti Dunia hari ini.

Ketika China sebagai Negara Komunis menjadi negara pertama terkena pandemi Covid-19 begitu cepatnya negara sosialis seperti Kuba yang membantu penyelesaian masalah itu.

Yang jadi pertanyaan apakah Kuba membantu China karena berangkat dari kesamaan negara sosialisme dan komunis?.

Meskipun banyak yang beranggapan bahwa yang dulunya sosialisme akan berujung pada komunis tetapi hari ini komunis sudah cenderung otoriter seperti Fasisme. Ya, ini adalah hal yang sangat menarik untuk kita pandang dari berbagai paradigma.

Apakah Solidaritas Global Merobohkan Ideologi yang sedang Bertarung?

Menurut saya ini adalah kesadaran kemanusiaan Kuba terhadap China. Meskipun Biro departemen luar negeri Amerika menuduh Kuba membuat propaganda saat mengirimkan tenaga medis dan dokter ke negara yang terkenal pandemi Covid-19.

Terus, benarkah setelah kesadaran kemanusiaan seperti yang dilakukan Kuba akan mengubah pandangan manusia kedepannya? Karena manusia cenderung percaya sesuatu yang ilmiah apalagi sifatnya saintis.

Ya, kita analisis pandangan Yuval Noah Harari dalam tulisannya yang berjudul (the world after Corona virus).

“Saya melihat dunia lebih percaya saintis dibanding teori konspirasi yang dibuat oleh pejabat dan media. Kita akan cenderung percaya dari hasil penelitian dan ilmiah.”

Juga dengan pendapat Zizec yang hampir sama dengan Yuval Noah Harari bahwa saintisme bekerja membangun solidaritas global. Artinya, Masyarakat dunia akan kembali bersatu layaknya sosialisme dan juga akan menguasai peradaban manusia layaknya Kapitalisme.

Mungkinkah itu? Mari kita sama sama menganalisis bagaimana awal perkembangan saintisme lalu apa sebenarnya saintisme itu.

Mengutip Jean Peaget, Heath mengatakan, kekeliruan sains modern yang pertama terletak pada tersamarnya istilah “Ilmiah” dan “Empiris”. Ia kemudian menjelaskan bahwa, kalau tujuan kita ialah mencari pengetahuan, tentunya kita harus berpikir secara ilmiah (logis), namun tidak wajar jika kita mempersempit lingkup penelitian dan pemikiran kita untuk mengikuti kriteria yang bersifat empiris semata-mata.

Kelemahan pertama sains modern terletak pada hal ini. Sains modern (entah sengaja ataupun tidak) telah mengabsolutkan metode empiris menjadi Sains empirisisme. Rekayasa ini tanpa sadar telah mereduksi sifat ilmiah dan menggantinya dengan suatu filsafat dengan topeng sains modern.

Hal tersebut terlihat dari berbagai macam penolakan dari kalangan saintisme mengenai unsur-unsur supranatural dalam konsep agama-agama, yang kemudian dipaksakan dengan alur logika mereka dimana klaim-klaim demikian menjadi gugur karena tidak bersifat empiris.

Nah meskipun kita melihat hari ini semua yang bersangkutan dengan ilmiah. Sesuatu dianggap benar ketika bisa dianalisis dengan baik oleh pengetahuan manusia. Mulai dari kesehatan, pendidikan hingga pada peradaban manusia mungkinkah paham seperti ini akan menguasai?.

Menurut saya, saintisme hanya sampai sebatas memahamkan manusia dari sesuatu yang sedang menjadi fenomena di Alam (manusia adalah alam tapi juga sebagai subjektif pemikir). Iya, karena untuk kepercayaan bahwa metode dan pendekatan ilmiah dapat diterapkan untuk segala hal, dan bahwa sains adalah cara pandang dunia yang paling otoritatif atau paling berharga hingga menyingkirkan cara pandang lainnya.

Artinya saintisme tidak akan menjadi suatu ideologi yang menguasai global. Kapitalisme dan sosialisme berhubungan dengan hubungan antara manusia dengan manusia lainnya. Sedang sains hanya merujuk pada suatu yang bisa di rasionalkan kebenarannya di alam.

Berbeda dengan sesuatu yang sifatnya teologi. Saintisme akan sangat berpengaruh pada pandangan umat beragama. Pada fenomena Covid-19 terlepas dari pandangan agama untuk menjauhi wabah yang menular itu masih luar biasa.

Tapi tentang hubungan manusia dan Tuhan mulai Disepelekan. Rasional akan menang melawan suatu argumen yang tidak bisa dirasionalkan. Apalagi tentang kuasa Tuhan pada alam semesta.

Pengaruh pemikiran saintis ini sangat berefek pada bagaimana kepercayaan manusia terhadap kekuatan doa yang sifatnya ibadah dan membutuhkan keyakinan religius yang sangat mendalam tentang kuasa Tuhan. Membuahkan manusia mulai ada kemunduran keyakinan.

pandangan Cak Nur dalam “NDP CANDRADIMUKA” tentang Dasar-Dasar kepercayaan yang memandang bahwa percaya terhadap sesuatu yang rasional itu beda dengan kepercayaan yang sifatnya kepada Tuhan .

Bahkan, Cak Nur menegaskan jangan sampai kita berkepercayaan yang salah. Meskipun agak berbeda dengan  pandangan “Revolusi humanis” Yuval Noah Harari yang beranggapan bahwa inti dari Revolusi Religious Manusia tidak akan kehilangan kepercayaan kepada Tuhan tapi juga akan mendapatkan kepercayaan kemanusiaan.

Tapi, Cak Nur adalah pemikir Islam Modern. Memandang bahwa antara hubungan manusia dengan Tuhan (vertikal) juga harus berhubungan dengan manusia (Horizontal) atau disebut dengan Kemanusiaan.

Baca Juga : Teror Dibalik Virus Corona

Bahwa kita akan menuju keadilan sosial jika kita telah tuntas pada kemanusiaan. Memahami Keadilan sosial dan Keadilan ekonomi juga dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita akan menuju kemanusiaan seiring perkembangan teknologi jika kita kembali pada fitrah manusia.

Pemikiran manusia yang cenderung pada fakta realitas, itu akan membunuh suatu yang bentuknya metafisik. Tuhan melampaui batas fikiran manusia karena terbatasnya alat pengetahuan manusia.

Tetapi kita memaksakan untuk menampakkan kasih sayang Tuhan di tengah wabah Covid-19 ini. Bagi yang terlalu candu juga dengan agama sampai lupa apa tujuan dari agama itu. Sehingga kecanduan itu memunculkan sikap sinis dari berbagai orang yang anti terhadap itu.

Menurut saya, mereka hanya kurang mengetahui, jangan disalahkan cukup diberi bimbingan. Karena menghina atau menyinggung hanya akan membuahkan konflik sosial.

Seakan akan Tuhan dipaksakan untuk terbunuh oleh fikiran yang sulit sampai pada kebesarannya. Tuhan juga menjadi lelucon bagi manusia yang tidak mengerti Ikhtiar (kemerdekaan manusia) dan takdir (keharusan universal).

Berfikir secara ilmiah dan hidup dengan pengetahuan itu sangat dianjurkan. Tapi menghubungkan Materialisme dengan Teologi lalu karena keterbatasan sudah berani menghakimi bahwa Tuhan tidak berdaya pada Pandemi Covid-19 ini.

Sama dengan kaum elite global mengatakan “Spiritualisme adalah ILUSI, yang nyata adalah materialisme.” seolah-olah ia menggiring kita untuk menyembahnya di dunia dan mengatakan mereka Tuhan. Dan bodohnya kaum beragama pun ikut dalam fikiran mereka.

Terlepas dari kepercayaan tentang Tuhan, Akankah kepercayaan kemanusiaan terwujud?

Kita juga melihat dunia hari ini. Apakah benar yang menjadi penguasa global dari segala sektor adalah seperti Unicef yang menguasai monopoli pendidikan global. Disusul yang menguasai dan memonopoli sains global seperti NASA dan ESA.

Media Global seperti CNN dan lainnya yang menguasai Media Global, atau juga dengan WHO punya otoritas global?.

Ini masih menjadi pertanyaan dan membutuhkan banyak paradigma. Jika benar ada maksud terselubung dari para penguasa Global. Ini artinya kita akan sulit mendapatkan kebenaran dari suatu yang berusaha dijadikan fakta.

Baca Juga : “Dilamar” Skripsi saat Covid-19

Kecintaan antara manusia dan masukan lain adalah cita-cita kebahagiaan. Yang memperbudak manusia adalah Persaingan. Menghadirkan kelas kelas sosial. Saling ingin berkuasa dan muncul dipermukaan dan menjadikan Negara sebagai kendaraan untuk menjadi Tuhan. Mengeksploitasi alam demi keinginan bukan kebutuhan dasarnya.

Sektor produksi tak henti hentinya menciptakan alat produksi, menciptakan perang, menjadi penguasa ekonomi global.

Ini menjadi cita cita yang mulia bagi pecinta dan akan membuahkan problematika skala Global. Hingga melupakan sesuatu yang sifatnya diluar batas pengetahuan manusia yaitu tentang sesuatu yang misteri adalah “sang pencipta” atau disebut Tuhan oleh orang-orang beragama.

Maka banyaknya ideologi kepercayaan antar manusia satu dengan yang lainnya adalah sesuatu yang mustahil terwujud.

Penlis : A. Ikhsan, Mahasiswa Hukum Tatanegara UIN Alaudin Makassar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *