MIlenianews.com, Jakarta – Masyarakat dunia tak luput dari masalah yang dihadapinya. Dampaknya akan lebih berbahaya saat masalah tersebut menjadi penyebab kasus bunuh diri.
Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO – World Health Organization) jumlah angka bunuh diri setiap detiknya adalah satu orang.
Nilai tersebut bahkan lebih besar dari nyawa yang hilang akibat perang. Dalam setahun total terdapat 800 ribu orang yang melakukan bunuh diri.
Baca Juga : PB DJarum Hentikan Beasiswa Bulutangkis, KPAI Tutup Sarana Pengembangan Atlet Bulutangkis Indonesia
Bahkan WHO menyebut, bunuh diri merupakan masalah kesehatan masyarakat global. Semua kalangan tak mengenal usia, jenis kelamin di seluruh wilayah dunia terpengaruh.
WHO juga mendesak pembuat film agar membuat cerita tentang bunuh diri dikurangi. Hal tersebut bisa menimbulkan gejala ‘ikut-ikutan’ terhadap orang yang menyaksikannya.
“Praktek pelaporan media yang tidak benar bisa membuat kasus bunuh diri menjadi sesnasional dan di besar-besaran dan meningkatkan resiko penjiplakan (aksi bunuh diri) di antara orang-orang yang rapuh,” tulis laoran tersebut, dikutip CNN Indonesia, Selasa (10/09).
Pengurangan Pestisida
Bunuh diri merupakan penyebab utama kedua kematian setelah kecelakaan di jalan di kalangan anak muda rentang usia 15 sampai 29 tahun.
Dalam waktu 6 tahun terakhir angka bunuh diri secara global turun 9,8 persen. Tapi untuk wilayah Amerika naik sampai 6 persen pada kurun waktu yang sama, 2010-2016.
“Bunuh diri bisa dicegah. Kami menyerukan kepada semua negara agar menggabungkan strategi pencegahan bunuh diri yang terbukti menjadi program pendidikan dan kesehatan nasional,” kata jenderal WHO.
WHO menyebut akses ke pestisida merupakan salah satu cara paling efektif dalam mengurangi angka bunuh diri dengan cepat.
Baca Juga : Masyarakat Papua Tak Ingin Hutan Sagunya Hilang, “Sagu Itu Ibu Kami”
Pestisida biasanya menyebabkan kematian karena zat tersebut sangat beracun. Juga tidak ada penangkal dan sering digunakan di daerah terpencil yang tak ada bantuan medis disekitarnya.
Sementara, WHO menjelaskan studi yang dilakukan di Sri Lanka. Tempat tersebut menjadi tempat larangan atas pestisida telah membawa penurunan 70 persen angka bunuh diri. Juga memperkirakan 93.000 nyawa diselamatkan antara 1995-2015. (Ikok)