Milenainews.com, Jakarta – Para astronomi dunia untuk kedua kalinya, telah menemkan sebuah pecahan planet yang mengelilingi sebuah bintang mati. Planet tersebut dikenal sebagai ‘kerdil putih’.
Ini merupakan penemuan pertama yang dilakukan dengan menggunakan teknik spektroskopi. Dengan teknik ini para astronom bisa lebih mudah untuk mendeteksi pecahan planet serupa di penelitian selanjutnya.
Para astronom meyakini, pecahan tersebut bisa membantu manusia lebih memahami sistem tata surya lain dan sistem tata surya sendiri.
Ini menjadi bukti, apa yang terjadi saat bintang induk mereka mati. Sebuah nasib yang akan dialami juga oleh sebagin besar sistem bintang di alam semesta, termasuk di sistem tata surya kita (sendiri).
Ini yang akan Terjadi Saat Matahari Mati
Pertama, reaktir nuklir bertenaga hidrogen di jantung Matahari akan kehabisan bahan bakar. Saat itu matahari pun akan mengembang menjadi bintang raksasa merah.
Lapisan terluarnya akan membengkak hingga 100 kali ukurannya saat ini. Kondisi tersebut akan menelan Merkurius, Venus bahkan mungkin planet Bumi yang kita duduki bersama kehidupan harmonis dan para jomlo didalamnya.
Kemudian, Matahari akan mulai melakukan fusi helium di intinya, menggabungkan atom-atom helium yang ada menjadi karbon sampai akhirnya kekurangan helium itu sendiri.
Saat helium habis, Matahari akan terguncang jatuh ke dalam gravitasinya sendiri. Menumpahkan lapisan terluarnya hingga yang tersisa hanya bola padat dan bercahaya yang tak jauh lebih besar dari Bumi. Itulah yang disebut ‘kerdil putih’.
Tak ada yang bisa memprediksi saat Matahari mengalami kematiannya, yang mungkin akan terjadi dalam kurun waktu 5 miliar tahun mendatang. Tapi, sistem bintang yang baru ditemukan ini berupak petunjuk baru.
“Kita seperti sedang melihat sekilas tentang kemungkinan masa depan tata surya kita sendiri,” kata Jessica Christiansen, seorang astronom di lembaga sains eksoplanet NASA.
“Ini seru sekaligus sedikit menakutkan, kita seperti membayangkan hal itu terjadi di tata surya kita.”
Kerdil Putih yang diamati para astronom dikategorikan sebagai SDSS J122859.93+104032.9 (1228). Seorang astrofisikawan di Universtas Warwick, Inggris yang memimpin studi terhadap 1228 ini, yang pertama mengamati sang bintang kerdil putih beberapa tahun lalu.
Lalu, ia dan rekan-rekannya sangat tertarik karena di kerdil putih ini memiliki cakram puing-puing pecahan planet yang beputar-putar disekitarnya.
Kerdil Putih Membantu Memprediksi Masa Depan Tata Surya
Gran Telescopio Canarias, berusaha mengamati cahaya dari cakram tersebut menggunakan telekop optik terbesar di dunia dengan metode Spektroskopi. Metode itu bisa membagi cahaya yang diamati menjadi bagian-bagian komponennya. Hasilnya memberi informasi, dari apakah cakram puing itu.
Manser dan rekannya terkejut melihat adanya ‘gangguan’ dalam cakram tersebut. Dalam setahun pengamatannya, gangguan tersebut terus muncul setiap 2 jam sekali.
Mereka berpendapat, gangguan tersebut bisa dihasilkan oleh planetesimal (pecahan planet) yang mengorbit bintang yang baru saja mati.
Pengamatan selanjutnya, membenarkan bahwa gangguan tersebut memang merupakan planet raksasa disana yang pecah. Planet tersebut dikatakan lebih dekat dengan 1228, terbukti dengan periode orbitnya setiap 2 jam.
Sementara Futurism mencatat, pecahan planet tersebut memiliki lebar setidaknya satu kilometer. Namun diameternya bisa mencapai beberapa ratus kilometer.
Planet tersebut masih bisa bertahan dari kehancuran sistem bintangnya berkat komposisi besi dan nikel yang kokoh.
Planet yang pecah ini, menurut Manser memiliki kepadatan yang cukup tinggi sehingga dapat bertahan hidup dari gravitasi yang kuat saat bintang induknya mati.
“Hal terpadat yang bisa dipikirkan pertama kali adalah besi,” katanya.
Dalam tatanan tata surya kita sendiri, ada sebuah objek yang mirip dengan planet pecah ini, yaitu sebuah asteroid yang terbentuk keseluruhannya dari logam, 16 Psyche.
“Matahari kita mungkin suatu hari akan mati, apapun yang dapat kita pelajari tentang ‘kerdil putih’ pada dasarnya akan membantu kita lebih memahami masa depan tata surya kita,” tutup Manser. (Ikok)
Sumber : NASA