KKN UNIGA Kelompok 16 Ajak Siswa MIS Ar-Raudhotun Nur Kenali Bahaya Bullying

Anti Bullying

Milenianews.com, Garut – Sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman bagi anak untuk belajar, bermain, dan tumbuh bersama. Pesan tersebut menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Garut (UNIGA) Kelompok 16 Desa Pamalayan saat menyosialisasikan Program Anti Bullying di MIS AR-RAUDHOTUN NUR, Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Selasa (12/8).

Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi kunjungan mahasiswa ke madrasah. Para mahasiswa juga mengajak siswa memahami pentingnya membangun pertemanan yang sehat dan saling menghargai.

Mahasiswa mengemas materi dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cara tersebut membantu siswa mengenali tindakan bullying yang terkadang masih dianggap sebagai candaan.

Beberapa mahasiswa yang hadir dalam kegiatan tersebut yakni Adi M. Rizki dari Fakultas Teknik (FTEKNIK), Devi Nuraeni dari Fakultas Pendidikan dan Ilmu Keguruan (FPIK), Rosa Desviani Azzahra dari Fakultas Ekonomi (FEKON), dan Nisya Triani dari Fakultas Ekonomi (FEKON).

Kenalkan Batas antara Bercanda dan Bullying

Adi M. Rizki menjelaskan bahwa edukasi tentang bullying perlu diberikan sejak dini. Menurutnya, siswa perlu memahami perbedaan antara candaan yang sehat dan perilaku yang dapat menyakiti orang lain.

“Program Anti Bullying ini sangat penting untuk disosialisasikan, terutama kepada para pelajar. Tidak sedikit kasus bullying yang terjadi di lingkungan pendidikan. Karena itu, kita perlu memberikan pemahaman sejak dini agar anak-anak mengetahui mana yang sekadar bercanda dan mana yang sudah masuk dalam tindakan yang dapat menyakiti atau merugikan teman,” ujar Adi.

Ia menjelaskan bahwa bullying tidak hanya berupa kekerasan fisik. Perkataan yang merendahkan juga dapat menyakiti seseorang.

Begitu pula dengan pemberian julukan yang tidak disukai, mengucilkan teman, atau mempermalukan seseorang di depan orang lain. Tindakan yang dilakukan berulang kali hingga membuat seseorang merasa tidak berharga juga perlu mendapat perhatian.

Karena itu, Adi mengajak siswa membangun budaya saling menghargai sejak berada di bangku sekolah.

Pesan serupa disampaikan Devi Nuraeni. Ia menyoroti kebiasaan memanggil teman menggunakan nama orang tua yang kerap dianggap sebagai bahan candaan.

Menurut Devi, siswa perlu memahami dampak dari candaan tersebut. Jika sebuah panggilan membuat teman merasa malu, tersinggung, tidak nyaman, atau tertekan, maka candaan tersebut sudah melewati batas.

“Selama ini menyebut teman dengan nama orang tua sering dianggap sebatas candaan. Padahal, kalau hal itu membuat teman merasa malu, tersinggung, atau tidak nyaman, kita harus memahami bahwa perilaku tersebut sudah termasuk praktik bullying. Jadi, bercanda juga harus ada batasnya. Kita harus belajar menghargai perasaan teman,” ungkap Devi.

Madrasah Sambut Program Anti Bullying

Anti Bullying

Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum MIS AR-RAUDHOTUN NUR, Insan Faisal Ibrahim, S.Pd., Gr., menyambut baik kegiatan yang dibawa mahasiswa KKN Tematik UNIGA tersebut.

Menurutnya, kehadiran mahasiswa memberikan pengalaman baru bagi peserta didik. Kegiatan ini juga membuka ruang interaksi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan dasar.

“Hadirnya mahasiswa KKN Tematik Universitas Garut tentu memberikan dampak positif bagi madrasah. Selama ini madrasah kami sangat jarang mendapatkan kunjungan dari mahasiswa yang sedang mengemban tugas di lapangan,” tutur Insan.

Ia menilai topik bullying sangat dekat dengan kehidupan peserta didik. Karena itu, edukasi mengenai perilaku tersebut penting untuk terus dilakukan.

Insan juga menegaskan bahwa madrasah harus menjadi tempat yang aman bagi setiap siswa. Anak-anak tidak hanya datang untuk memperoleh pengetahuan.

Mereka juga belajar bersosialisasi, membangun karakter, meningkatkan kepercayaan diri, dan menciptakan hubungan positif dengan teman maupun guru.

“Anak-anak perlu mendapatkan banyak pengalaman dan perspektif baru agar mereka semakin percaya diri, mampu menghargai orang lain, dan memahami pentingnya menciptakan lingkungan pertemanan yang sehat,” tambahnya.

Baca juga: Bullying di Sekolah Bukan Lagi Kasus, Tapi Kebiasaan

Bangun Lingkungan Sekolah yang Aman

Program Anti Bullying yang dijalankan KKN Tematik UNIGA Kelompok 16 membawa pesan sederhana. Sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi anak untuk belajar dan berkembang.

Membangun lingkungan bebas bullying juga membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Siswa perlu belajar menghargai teman. Guru dan orang tua juga perlu memberikan pendampingan ketika muncul persoalan.

Perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui kegiatan edukasi dan pengabdian masyarakat. Dalam hal ini, mahasiswa KKN UNIGA hadir membawa pengetahuan sekaligus membangun interaksi dengan lingkungan pendidikan di Desa Pamalayan.

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pencegahan bullying dapat dimulai dari hal sederhana. Saling menghargai, menjaga ucapan, dan memahami perasaan teman menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan pertemanan yang sehat.

Pada akhirnya, sosialisasi Program Anti Bullying di MIS AR-RAUDHOTUN NUR bukan hanya mengajak siswa mengenali perilaku bullying. Kegiatan ini juga menanamkan nilai empati dan kepedulian sejak dini.

Dari lingkungan madrasah, kesadaran untuk menghentikan bullying diharapkan terus tumbuh. Dengan begitu, anak-anak dapat berkembang menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, empati, dan kemampuan menghargai sesama.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *