Agus Idwar Raih Gelar Doktor: Nasyid Mampu Mempertemukan Estetika, Etika, Spiritualitas, dan Kreativitas

Musisi nasyid, vokalis musik religi, produser, presenter TV, serta akademisi Indonesia, Agus Idwar Jumhadi berhasi meraih gelar Doktor Ilmu Dakwah Universitas Islam As-Syafi’iyah Jakarta  setelah sukses mempertahankan disertasinya yang  berjudul “Paradigma Dakwah Trilogi Nasyid Dalam Budaya Populer di Indonesia” dalam Sidang Terbuka Disertasi  di Kampus 2, Gedung AMC, Universitas As-yafi’iyah Jakarta, Selasa (11/8/2026). (Foto-foto: Istimewa/LSBPI MUI)

Milenianews.com, Jakarta–  Musisi nasyid, vokalis musik religi, produser, presenter TV, serta akademisi Indonesia, Agus Idwar Jumhadi berhasi meraih gelar akademik tertinggi.  Mahasiswa Program Doktor Ilmu Dakwah Universitas Islam As-Syafi’iyah Jakarta  itu berhasil meraih gelar Doktor setelah sukses mempertahankan disertasinya yang  berjudul “Paradigma Dakwah Trilogi Nasyid Dalam Budaya Populer di Indonesia” dalam Sidang Terbuka Disertasi  di Kampus 2, Gedung AMC, Universitas As-yafi’iyah Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Sidang Terbuka itu dipimpin oleh   Rektor Universitas Islam As Syafi’iyah Prof. Dr. Masduki Ahmad, SH., MM, dan dihadiri oleh Dekan Fakultas Agama Islam Univ Islam As Syafi’iyah  sekaligus sebagai Promotor, Abdul Hamid, Lc, M.Kom.I, Ph.D., Dr. Samsul Ma’arif sebagai Ko Promotor, Dr. Hj. Badrah Uyuni, M.A. sebagai Penguji 1,  dan Dr. Phil. Habiburrahman El -Shirazy Lc., MA. sebagai Penguji 2, serta Mahfuz, S.Sos., M.E. sebagai Sekrertaris.

Dalam sidang terbuka itu, Agus Idwar menjelaskan bahwa penelitian disertasinya mengkaji transformasi nasyid sebagai media dakwah di tengah perkembangan budaya populer, dengan menempatkan kemasan, lirik, dan munsyid sebagai tiga pilar utama atau Trilogi Nasyid.

“Budaya populer dalam penelitian ini dipahami sebagai budaya yang berkembang sebagai budaya massa, bersifat kekinian, dan memiliki kecenderungan berorientasi pada ekonomi atau komersialitas. Pertemuan nasyid dengan budaya populer kemudian melahirkan proses adaptasi dan negosiasi antara nilai dakwah dan tuntutan industri, terutama dalam aspek estetika, produksi, distribusi, dan konsumsi,” kata Agus Idwar yang dikenal luas  sebagai salah satu pelopor kebangkitan musik nasyid modern di Indonesia sejak dekade 1990-an melalui grup musik Snada.

Ia menambahkan, dalam menghadapi budaya populer tersebut, penelitian yang dia lakukan menempatkan Sibghah dan Ikhtira’ sebagai strategi kreatif. Sibghah merupakan strategi memberi warna dan nuansa Islami terhadap bentuk-bentuk budaya populer yang telah dikenal masyarakat, sedangkan Ikhtira’ merupakan strategi menciptakan bentuk dan ekspresi nasyid yang baru dan inovatif.

“Keduanya bekerja melalui Trilogi Nasyid: kemasan yang adaptif, lirik yang kontekstual, dan munsyid sebagai komunikator sekaligus representasi nilai dakwah,” kata Agus Idwar yang juga merupakan berkhidmat di Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI Pusat.

Hasil penelitian Agus Idwar menunjukkan bahwa adaptasi terhadap budaya populer tidak serta-merta mengubah karakter dasar nasyid. Munsyid tidak hanya menempatkan nasyid sebagai produk hiburan, tetapi terutama sebagai media dakwah. Karena itu, orientasi ekonomi budaya populer tidak secara otomatis menjadi orientasi utama nasyid. Bahkan, dalam konteks tertentu, posisi tersebut menjadi antitesis: ketika budaya populer cenderung menempatkan karya sebagai komoditas yang berorientasi ekonomi, para munsyid justru mempertahankan nasyid sebagai sarana menyampaikan nilai, membangun kesadaran, dan melakukan pembinaan spiritual masyarakat.

“Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa budaya populer dapat mengubah cara nasyid dikemas dan dikomunikasikan, tetapi tidak harus mengubah ruh dan orientasi dakwahnya. Trilogi Nasyid yang diperkuat strategi Sibghah dan Ikhtira’ memungkinkan nasyid berdialog dengan zaman tanpa kehilangan identitasnya,” kata Agus Idwar  yang juga dikenal luas  sebagai presenter acara-acara bernuansa Islami, talkshow keluarga, serta program sahur/buka puasa di berbagai stasiun televisi nasional (seperti TVRI, RCTI, dan TV One) maupun  penyiar radio yang mendedikasikan suaranya dalam program-program edukasi dakwah dan musik religi di radio lokal maupun nasional.

“Paradigma ini menegaskan bahwa nasyid mampu mempertemukan estetika, etika, spiritualitas, dan kreativitas, sehingga tetap relevan sebagai media dakwah yang komunikatif dan membumi di tengah budaya populer Indonesia,” ujar Agus Idwar yang juga aktif sebagai dosen dan trainer.

Baca Juga : Nasyid Makin Modern, Vocafarabi Gunakan Spencer Untuk Acapella

Gelar Doktor yang diraih oleh Agus Idwar  menyempurnakan rekam jejak pendidikan formalnya yang mengombinasikan ilmu manajemen bisnis dan kepemimpinan, yakni Sarjana (S1): Sarjana Ekonomi (S.E.) dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Magister (S2): Magister Manajemen (M.M.) dengan konsentrasi Manajemen Pemasaran/Kepemimpinan, dana Doktor (S3): Doktor (Dr.) dalam bidang Ilmu Manajemen / Manajemen Pendidikan Islam, yang makin memperkuat perannya di dunia akademis dan riset kepemimpinan lembaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *