Banyak Turis Masih Antri Mendaki Uluru Sebelum Ditutup

Turis mendaki uluru sebelum ditutup

Milenianews.com, Alice Spring – Mungkin bagi sebagian orang yang suka mendaki, akan mencoba mendaki semua gunung. Apalagi jika ada kabar akan ditutup, pasti ada beberapa turis yang memanfaatkan momen mencoba mendaki gunung tersebut sebelum itu benar-benar ditutup. Salah satunya Gunung Uluru, masih banyak turis yang antri untuk mendaki sebelum nantinya gunung ini ditutup.

Gunung Uluru, atau dikenal juga sebagai Ayers Rock, adalah sebuah formasi batu berukuran besar di Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta. Terletak sekitar 350 km di barat daya kota Alice Springs, Northern Territory, Australia. Ratusan turis terlihat masih mengantri untuk berkesempatan naik ke Uluru di Australia, sebelum larangan pendakian mulai diberlakukan. Pada Sabtu (26/10) esok, rencananya otoritas mulai melarang pendakian. Otoritas mengancam mengenakan denda besar dan sanksi tegas pada wisatawan yang ketahuan masih mendaki.

“Suatu hari keluar dari penutupan pendakian Uluru, ini adalah garis pukul 07.00,” tulis wartawan Oliver Gordon yang membagikan rekaman antrian di bawah monolit batu pasir raksasa itu. Dilansir dari Independent, video tersebut setidaknya telah ditonton lebih dari 200 ribu orang.

Dilansir dari Republika (25/10),  Dewan Pengelola Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta mengambil keputusan dengan suara bulat untuk memperkenalkan kembali larangan yang ada dari Oktober 2017. Alasannya, karena signifikansi spiritual dari Uluru bagi penduduk asli Australia yang menganggapnya suci.

Penduduk telah meminta orang-orang untuk berhenti memanjatnya dengan alasan itu, serta risiko pendakian hingga menuju puncak. Lebih dari 35 orang kehilangan nyawa karena mendaki Uluru sejak pariwisata dimulai pada 1940an.

Pada 2016, tiga turis Australia harus dievakuasi, setelah jatuh ke celah batuan yang retak.

Baca Juga : Ada Agenda Muncak ke Gunung Sindoro Bulan ini? Urungkan! Gunung Sindoro Ditutup Mulai Senin ini

“Itu adalah tempat yang sangat penting. Bukan taman bermain atau taman hiburan seperti Disneyland,” kata Ketua Dewan Pengelola Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta, Sammy Wilson.

Sebagai wisatawan, jika dirinya pergi ke negara yang memiliki situs suci dengan ketentuan area terbatas, seharusnya tidak masuk atau memanjatnya. “Saya menghargainya (aturan itu),” ujar Wilson.

Wilson memastikan alasan penutupan bukan lantaran penduduk setempat kesal dengan wisatawan, tetapi karena ada acara perayaan di tempat sakral itu.

Sumber : sbs News

Sebelum ditutup, total turis Uluru yang ingin mendaki meningkat hampir 10 ribu perbulan selama 6 bulan terakhir

Sejak pengumuman rencana pelarangan pendakian ke Uluru, banyak orang berbondong-bondong ke jantung Red Centre itu untuk melakukan pendakian. Dengan total hampir 10 ribu pengunjung tambahan dari rata-rata sebulan dalam enam bulan terakhir.

Pada Juli 2019, sebanyak 57 ribu orang datang ke Uluru. Jumlah itu meningkat dari periode yang sama pada tahun sebelumnya, yakni sebanyak 42 ribu.

Banyak wisatawan yang dengan terang-terangan mengabaikan papan keterangan yang berbunyi, “Kami, pemilik tradisional Anangu, mengatakan ini. Uluru adalah sakral dalam budaya kita, tempat yang memiliki banyak pengetahuan. Di bawah hukum tradisional kita, pendakian tidak diizinkan. Ini rumah kita. Tolong jangan memanjat.”

Banyak orang menyayangkan wisatawan yang masih mendaki gunung tersebut, padahal bagi sebagian orang asli sana menganggapnya sakral. Uluru adalah benda keramat bagi para Aborigin dengan banyak mata air, gua, dan lukisan primitif. Sebagai wisatawan, meskipun sama sekali tidak ada niatan untuk merusak, setidaknya hormati kepercayaan orang setempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *