News  

Habiburrahman El Shirazy Cerita Bedanya Berkarya di Mesir dengan di Indonesia!

H. Habiburrahman El-Shirazy

Milenianews.com, Jakarta – Habiburrahman El Shirazy, bercerita tentang perbedaan berkarya sewaktu menjadi mahasiswa Al Azhar Kairo dan di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa dalam membuat karya tidak ada bedanya di tempat manapun. Baik di Mesir ataupun di Indonesia.

“Membikin karya itu sama saja, bedanya memang ketika di Kairo masih pemula. Masih mahasiswa dan masih tinggi idealismenya. Kalo disini istilahnya sudah masuk kehidupan bermasyarakat, sehingga bisa mengetahui kondisi masyarakat,” ujar Habiburrahman.

Baca Juga : 6 Film Patah Hati yang Wajib Kamu Tonton!

“Saya rasa memang tidak ada bedanya, kalau masih semangat ya saya masih semangat sampai sekarang.”

Ketika menempuh studi di Kairo, Mesir, Habiburrahman telah menghasilkan beberapa naskah drama. Ia juga menyutradarai filmnya sendiri antara lain, Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana, dan Darah Syuhada (2000).

Habiburrahman sendiri sudah banyak menulis buku dan film yang sudah melanglang buana di mancanegara. Mungkin semua orang masih ingat dengan film Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih. Kedua film tersebut merupakan adaptasi dari novel yang ia tulis.

Habiburrahman El Shirazy beri harapan untuk penulis muda

Melalui wawancara eksklusif pada acara pengumuman pemenang Sayembara Menulis Skenario Film Pendek Islami yang diadakan oleb Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) Majels Ulama Indonesia (MUI) Senin (5/12), di Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, Habiburrahman memberi harapan bagi para penulis muda indonesia yang sedang mengejar impiannya.

“Harapan saya kepada penulis muda yaitu ada dua hal. Pertama semangat yang tidak boleh padam, selalu terus bersemangat dalam berkarya. Kedua harus memiliki semangat untuk terus belajar,” ujar Habiburrahman.

Baca Juga : Stoisisme : Obat Cemas untuk Gen Z

Ia juga mengomentari tentang adanya salah satu kelemahan dari seorang penulis muda di zaman sekarang. Menurutnya, penulis muda sekarang, sangat mudah puas. Hal ini akan membuat lemahnya semangat untuk belajar dari orang lain.

“Kadang-kadang mereka baru punya buku sendiri, itu mereka sudah merasa seperti tokoh dan bintang besar. Sehingga tidak mau membaca karya-karya yang lain dan yang lebih berkualitas. Seolah mereka sudah merasa bahwa karya mereka itu adalah yang terbaik. Ini tentu akan membunuh potensi. Saya berharap anak-anak muda untuk terus semangat dalam berkarya dan untuk terus belajar,” pesannya.(Esa Ardhany)

Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.

Space Iklan Milenianews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *