Mimpi tak Akan Pernah Mati

Judul buku: White as Milk, Red as Blood (Bianca Come il Latte, Rossa il Sangue)

Penulis: Alesandro D’Avenia

Genre: Fiksi

Penerbit: Bhuana Sastra

Tahun Terbit: 2010 (Italia), 2015 (Indonesia)

Tebal: 363 hlm

 

Milenianews.com, Ngobrolin Buku- Jika diartikan ke dalam bahasa indonesia, novel fiksi ini yang berjudul White As Milk, Red As Blood. Putih seperti susu, merah seperti darah. Alessandro D’Avenia adalah penulisnya. Pria Italia bermata biru yang memiliki rambut ikal. D’Avenia adalah seorang penulis, guru, dan penulis skenario mengenai profil selengkapnya mengenai Alessandro ini saya tidak ketahui karena biografi Alessandro D’Avenia berbahasa Italia dan saya tidak mengerti. Alessandro menerbitkan novel ini pada tahun 2010, dan pada tahun 2015 baru bisa diterbitkan di Indonesia.

Novel ini mengkisahkan tentang seorang remaja lelaki yang berusia 16 tahun yaitu bernama Leonardo, sebut saja ia dengan Leo. Leo adalah seorang siswa yang sangat malas dalam bersekolah Leo bukanlah anak yang pintar namun bukan berarti juga bahwa ia bodoh dan Leo tidak juga semacam orang yang belum mengerti siapa dirinya sendiri ataupun tidak ada semangat maupun seperti tidak memiliki impian.

Di mata Leo,  sekolah adalah tempat yang membosankan dan ia benci sekolah apalagi dengan guru-gurunya, di mata Leo sekolah adalah tempat yang berisi dengan sekumpulan vampir yang siap menghisap darah dari siswa-siswanya. Hal itu hanya bayangan Leo semata ketika memandang sekolah adalah tempat yang sangat tidak menyenangkan. Dibandingkan pergi ke sekolah, seperti remaja pada umumnya yang benci sekolah Leo lebih memilih menghabiskan waktunya untuk mendengarkan lagu atau balap motor dan bersenang-senang bersama temannya, yaitu Niko. Tak hanya Niko dia juga memiliki seorang sahabat yang bernama Sylvia. 

Leo sangat membenci dan tidak menyukai warna putih. Tiap kali ia membayangkan warna putih Leo selalu merasa tidak nyaman akan hal itu. Tidak seperti remaja pada umumnya yang mempunyai berbagai macam impian, bagi Leo impian satu-satunya adalah Beatrice si gadis berambut merah.

Dia terpesona dan jatuh cinta pada warna merah yang berasal dari rambut Beatrice. Warna merah itu bagi Leo adalah semangatnya. Salah satu alasan ia mau untuk datang ke sekolah adalah untuk melihat Beatrice. Beatrice adalah mimpinya. Angan-angannya tentang Beatrice begitu tinggi, namun dia hanya berani mengaguminya dari kejauhan. Ia tidak pernah mengungkapkan apa isi hatinya secara langsung. Tapi mimpi itu pun hancur. Leo seakan jatuh dari mimpinya saat dia mengetahui bahwa Beatrice mengidap penyakit yang begitu serius yaitu leukemia.

Penulis dalam buku ini menuliskan cerita tentang Leo dan Betarice dengan rangkaian kata yang indah, dan sangat menyentuh hati.

Melalui karakter Leo, sebagai pembaca yang dulu bersekolah, saya ikut merasa muak tentang sekolah. Inilah yang saya rasakan ketika sudah sangat jenuh dengan berbagai rutinitas di sekolah. Di sisi lain, melalui karakter Beat, penulis membuat saya berpikir dan menyadari betapa banyak waktu yang telah saya sia-siakan. Penulis telah berhasil menjelaskan bahwa betapa pentingnya waktu dalam hidup kita dan betapa indahnya menjalani sesuatu dengan dedikasi dan rasa syukur.

Saya suka novel ini. Ini salah satu novel favorit dari beberapa novel yang telah saya baca. Tidak hanya cinta, tetapi juga persahabatan antara Leo dan Sylvia, dan konflik antarremaja diceritakan melalui karakter Nico.

Banyak novel yang membahas tentang romansa remaja, tetapi sedikit yang dapat menyampaikan nilai-nilai yang terkandung dalam ceritanya.

Cinta itu luas, cinta berubah, cinta terkadang naik turun, dan kadang cinta itu bergejolak.

Novel ini sangat direkomendasikan bagi mereka yang ingin membaca tetapi sudah malas, karena bosan dengan tulisan-tulisan payah yang sering ditemukan dalam novel roman. Ungkapan puisi yang terkesan menggelikan.

Penulis novel ini, Alessandro, menulis cerita dengan bahasa yang sederhana dan indah. Mudah dipahami dan dimengerti oleh pembaca. Tidak seperti novel roman pada umumnya, yang puitis dan melankolis, mengharuskan pembaca untuk berpikir banyak untuk memahaminya.

Novel ini tidak berakhir dengan Leo dewasa. Alessandro tidak ingin kita melompat ke masa depan yang jauh. Cukup hanya rentang usia usia 16-17 dari karakter utama Leo sudah cukup.  Menggunakan alur maju dalam tiap tulisannya membuat kita seolah mengikuti Leo melalui setiap langkah perjalanannya dalam melewati usia 16 tahun. Bagi orang dewasa dan pembaca berusia 30-an ke atas tidak akan merugi bila membaca dan mengikuti kisah Leo. Ketika berhadapan dengan seseorang seusia Leo, kita belajar kembali bagaimana menghadapinya.

Oleh Felix Fernando 20041184083, IKOM 20B

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *