Event  

MGBK Cabang Dinas Pendidikan Wil 1, Gelar Workshop Peningkatan Kompetensi Guru BK SMK

workshop peningkatan kompetensi guru BK

Milenianews.com, Jakarta – Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) SMK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah 1 Provinsi Jawa Barat, sukses menggelar Workshop Peningkatan Kompetensi Guru BK SMK.

Workshop yang mengusung tema ‘Optimalisasi Layanan BK Menghadapi era Society 5.0 ini berlangsung pada Jumat, (14/1) silam, di Auditorum SMK Negeri 2 Cibinong Kabupaten Bogor.

Baca Juga : MGBK Indonesia Gelar Rakernas Secara Virtual

Kepala SMKN 2 Cibinong Miswan Wahyudi, menyambut baik kegiatan workshop ini sebagai upaya menghadapi perubahan kurikulum baru yaitu kurikulum prototype yang akan segera digulirkan mulai tahun 2022.

Sementara itu, juga banyak narasumber hadir, antara lain Cindy Marisa, Devi Ratnasari, Neng Triyaningsih Suryaman, dan Hengki Satrianta, dari kepengurusan MGBK Provinsi Jabar. Dengan moderator Ni Luh Rahayu Widiasti.

Sesuai dengan temanya, workshop ini membahas tentang pengoptimalan kompetensi layanan bimbingan dan konseling menghadapi era society 5.0.

Bahasan tersebut terdiri dari Pengaplikasian Diksi dan Metode Pembelajaran Daring dalam Layanan Konseling Format Klasikal. Juga Pelayanan Konseling Individu Menggunakan Teknik Solution Focused Brief Therapy.

Sebanyak 50 lebih guru hadir dalam workshop ini, yang juga menghadirkan Pelayanan Konseling Individu Menggunakan Teknik Narative Therapy, dan Pelayanan Konseling Individu Menggunakan Teknik Music Therapy.

Baca Juga : MGBK Cilacap, Wujudkan Guru BK Masa Kini

Dalam kesempatan ini, Karyadi selaku Ketua MGBK SMK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah 1 Provinsi Jawa Barat menyampaikan, workshop ini menjadi salah satu kebutuhan real Guru BK SMK dalam menghadapi perubahan kurikulum pada masa pemulihan. Ini juga menjadi kegiatan perdana di tahun 2022.

“Guru BK membutuhkan upgrade kompetensi dalam memberikan layanan BK untuk menghadapi kurikulum prototype dan pembelajaran tatap muka 100 %. Kegiatan workshop ini sangat dibutuhkan, karena mengasah kembali beberapa teknik konseling dan therapy yang sudah dipelajari dibangku kuliah,” ujarnya (17/01).(Rifqi Firdaus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *