Menu Berbuka

Oleh : Ramli Lahaping

“Bagaimana keadaanmu, Nak? Apa kau masih kuat?” tanya Dandi kepada anaknya, Hilman, saat mereka duduk bersampingan di sofa, di depan layar televisi yang menayangkan film kartun, ketika waktu sudah hampir tengah hari.

Sang anak lantas mengangguk tegas. “Ya, kuatlah, Ayah. Aku pasti bisa bertahan sampai buka.”

Dandi pun tersenyum senang. “Ah, syukurlah kalau begitu, Nak. Tetapi kau jangan sampai memaksakan dirimu, ya. Kalau kau merasa tidak tahan lagi, tak apa-apa kau buka saja. Lagi pula, kau memang masih anak-anak.”

- Advertisement -

Baca Juga : Sapaan Hangat dari Desa

Seketika, raut sang anak menyuratkan protes. “Aku tidak memaksakan diri, kok, Ayah. Aku sanggup puasa sehari penuh. Ayah saksikan sendiri kemarin-kemarin, kan?”

- Advertisement -

Dandi pun mengangguk dan mendengkus lega.

“Ayah jangan samakan aku dengan Pian, Dika, atau Riman. Mereka semua tak akan kuat berpuasa. Mereka doyan makan,” sambung sang anak, menyebut nama teman-teman sekolahnya dengan sikap meremehkan.

Dandi sontak tertawa gemas dan merangkul sang anak. “Kau memang hebat, Nak. Kau jangan sampai mau kalah dengan teman-temanmu, apalagi dalam soal menunaikan ajaran agama,” tuturnya, menyemangati.

“Pasti, Ayah,” pungkas sang anak.

Dandi tentu merasa sangat bangga menyaksikan anaknya yang masih duduk di bangku kelas II SD itu, sudah turut melaksanakan puasa di bulan suci. Ia merasa telah berhasil mendidik anaknya untuk menjadi orang yang patuh pada perintah agama. Ia merasa berhasil menuntun anaknya untuk mulai membiasakan diri menunaikan rukun agama sedini mungkin.

Sesuai pandangannya, Dandi memang ingin anaknya unggul dalam perkara agama dibanding anak-anak yang lain. Karena itu, ia merasa perlu untuk segera mengajarkan anaknya perihal ibadah menahan haus dan lapar itu. Apalagi, masa anak-anak memang masa pendidikan, sehingga ia berharap kalau kelak anaknya bisa menunaikan puasa sepenuh hati, dengan perasaan ringan.

Beruntung bagi Dandi, sebab anaknya antusias juga menuruti ajakannya untuk berpuasa, seolah-olah sang anak memang ingin mendidik dirinya sendiri. Padahal, ia sungguh tak akan marah jika anaknya itu belum mau belajar menahan nafsu makannya di usia dini, seperti juga anak-anak sepermainannya. Bagaimanapun, ia mengerti bahwa anak-anak belumlah wajib untuk berpuasa.

Karena pengertiannya pula, Dandi senantiasa menawarkan kepada sang anak agar tak memaksakan diri dalam melaksanakan puasa. Ia acap kali menawarkan kepada sang anak untuk membatalkan saja puasanya pada tengah hari, jikalau memang tak mampu menjalaninya sehari penuh. Tetapi sudah lima hari berjalan, sang anak ternyata sanggup bertahan hingga waktu berbuka.

Meski demikian, Dandi memahami bahwa semangat anaknya untuk berpuasa tidaklah didasari oleh ilmu. Niat anak semata wayangnya itu hanya dilandasi oleh embel-embel imbalan materi. Apalagi, dengan penghasilannya sebagai guru berstatus pegawai negeri, ia memang suka memanjakan sang anak, termasuk menghadiahinya mainan atas keberhasilannya menunaikan puasa. Terlebih lagi, istrinya pun senantiasa menyiapkan hidangan sahur dan berbuka dengan menu kesukaannya.

Jelas bagi Dandi bahwa imbalan-imbalan itulah yang membuat anaknya begitu berhasrat untuk menyempurnakan puasanya. Tetapi ia tentu tak ingin mempermasalahkan soal itu. Baginya, yang penting sang anak mau belajar membiasakan diri. Perihal kelurusan niat dan motivasi berpuasa, menurutnya, akan dipahami sendiri oleh sang anak kelak.

Dan hari ini, Dandi pun menyaksikan kalau anaknya semakin bersemangat dalam menjalani waktu berpuasa. Sang anak sama sekali tak lesu dan mengeluh. Namun ia meyakini kalau itu terjadi karena sang istri telah berjanji akan menyajikan hidangan berbuka yang spesial untuknya. Sebuah hidangan yang serupa dan selengkap dengan hidangan yang dilihatnya pada tayangan iklan di layar televisi.

Tetapi demi membuat anaknya tidak terlalu didera rasa lapar dan dahaga, maka menjelang sore hari, untuk kesekian kalinya, Dandi membawa sang anak berjalan-jalan di tengah kota. Ia lantas menyertai sang anak untuk bersenang-senang di berbagai wahana permainan, di dalam sebuah mal, kemudian membelikannya mobil-mobilan dengan tombol-tombol pengendali.

Tak pelak, atas taktik pengalihan itu, Dandi yakin bahwa sang anak akan anteng-anteng saja menjalani sisa waktu berpuasa hingga berbuka. Ia yakin bahwa sang anak akan mengabaikan tenggorokannya yang kering dan perutnya yang keroncongan karena perasaan senangnya di tengah keasyikan bermain dan mencuci mata.

Sampai akhirnya, setelah sekian lama, Dandi dan anaknya lantas pulang dengan mengendarai sepeda motor. Tetapi di tengah perjalanan pulang, menjelang waktu berbuka, kesialan malah menimpa mereka. Di bawah langit sore, tiba-tiba, hujan deras turun. Karena tak berbekal jas hujan, mau tak mau, mereka pun berteduh. Mereka berdiam saja di balai-balai bambu, di teras sebuah rumah semi permanen yang berjarak dari rumah yang lain, sembari menunggu hujan reda.

Namun sayang, sebab menit demi menit, hujan tak kunjung berhenti. Sebaliknya, hujan malah semakin menderas. Karena itu, Dandi merasa khawatir kalau-kalau waktu berbuka telah masuk, sedang hujan masih saja turun. Pasalnya, ia takut kalau sang anak menjadi kesal dan merajuk karena tidak berbuka di rumah dengan menu spesial yang telah ia nanti-nantikan.

Kekhawatiran Dandi pun tampaknya akan menjadi kenyataan. Waktu berbuka tidak lama lagi, tetapi bulir-bulir hujan terus saja berjatuhan.  Karena itu, ia akhirnya menuturkan pesan antisipatif kepada sang anak, “Kamu sabar, ya. Sepertinya, kita akan berbuka di sekitar sini saja. Kita bisa cari makanan di toko atau warung untuk mengisi perut kita sementara waktu.”

Sang anak merengut saja. Tampak sangat kecewa atas keadaan yang ia alami.

Sampai akhirnya, dari dalam rumah tersebut, muncullah seorang anak laki-laki. “Hilman?” terka sang bocah, selepas menggigit dan menyesap-nyesap potongan batang tebu.

Hilman sontak terkejut. “Pian!”

Pian pun tersenyum, kemudian berpaling dan menyapa Dandi, “Om.”

Dandi lalu membalas dengan senyuman simpul.

“Om dan Hilman terjebak hujan?,” tanya Pian.

Dandi lantas mengangguk. “Iya, Nak.”

“Kalau begitu, masuklah ke dalam rumah, Om. Di sini dingin,” ajak Pian. “Ayo, Hilman.”

Tetapi Dandi dan Hilman tak tergerak untuk melangkah masuk, seperti sungkan.

“Jadi ini rumahmu?,” tanya Hilman, dengan raut penasaran.

Pian pun mengangguk tegas sembari menyepah tebu. Ia lantas mematahkan ruas tebu itu, kemudian menyodorkannya kepada Hilman.

Lekas saja Hilman menggeleng. “Memangnya sudah buka?”

“Kau puasa?,” tanya balik Pian.

Hilman pun mengangguk. “Ya, aku puasa penuh,” jawabnya, terdengar membanggakan diri. “Kenapa kau tidak puasa?”

Pian pun menyengir. “Siang tadi, aku bekerja di kebun membantu ibuku membersihkan rerumputan di sekitar tanaman jagung kami. Aku merasa sangat capai dan memutuskan untuk berbuka saja saat tengah hari.”

Hilman pun mendengkus meremehkan. “Kau seharusnya lebih kuat lagi menahan rasa lapar dan hausmu.”

Pian hanya tertawa pendek.

Dandi cuma terdiam dan merasa tergelitik menyaksikan obrolan kedua anak tersebut.

Sejenak kemudian, seorang perempuan paruh baya keluar dari dalam rumah. Lekas saja Pian mengenalkan ibunya itu kepada Dandi dan Hilman, juga sebaliknya. Mereka lantas terlibat basa-basi perihal hujan. Sampai akhirnya, dengan sikap ramah dan membujuk, Pian dan ibunya mengajak Dandi dan Hilman untuk masuk ke dalam rumah.

Sesaat berselang, azan pun terdengar.

“Sudah waktunya berbuka,” kata ibu Pian. “Ayo, mari,” ajaknya, lantas membuka tudung saji.

Akhirnya, tampaklah jejeran hidangan di atas meja makan. Ada sirup rasa jeruk dan bubur pisang bersantan sebagai sajian pembuka. Ada pula nasi putih, ikan asin, dan sayur kelor sebagai makanan utama.

Selepas membaca doa, Dandi lalu meneguk air putih. Begitu pula Hilman. Setelah itu, Dandi lantas meneguk sirup rasa jeruk dan mencicipi bubur pisang dihadapannya. Tetapi langkahnya itu, tak dituruti oleh sang anak yang hanya terdiam dan tidak tergerak untuk menyantap sajian pembuka tersebut. Ia pun menjadi tidak enak hati kepada tuan rumah atas sikap sang anak yang tampak tidak berselera untuk bersantap.

“Maaf, hanya begini sajian berbuka kami sehari-hari,” tutur ibu Pian, lantas tersenyum simpul.

Seketika, Dandi jadi kalut dan kelimpungan. Ia jelas khawatir kalau Pian dan ibunya tersinggung menyaksikan tingkah anaknya yang tak bersahabat. “Ah, di rumah kami, sajian berbuka juga seperti ini. Kami sekeluarga juga suka menyantap bubur pisang,” kilahnya, lantas menoleh pada sang anak, “Iya, kan, Nak?”

Hilman mematung saja.

“Ayo, Hilman, makan bubur pisang,” ajak Pian.

Menyaksikan sikap diam anaknya, Dandi pun segera menggeser sepiring bubur pisang tepat ke hadapan sang anak. “Makankanlah. Enak, loh.”

Akhirnya, dengan raut tanpa ekspresi, Hilman pun mencicipi bubur itu sebanyak tiga sendokan saja, dan tidak melanjutkannya lagi.

Dandi kemudian memilih berhenti membujuk sang anak, sebab ia tak ingin sang anak malah menolak dengan cara keras dan membuat keadaan semakin runyam.

Seolah mengerti, Pian dan ibunya pun berhenti untuk mengajaknya.

Baca Juga : Malam Itu Tidak Gelap

Di tengah keheningan, hujan pun terdengar berubah menjadi gerimis.

Tiba-tiba, ditengah santapan orang-orang, Hilman pun bersuara, “Hujan sudah reda, Ayah. Ayo kita pulang. Aku mau makan di rumah saja.”

Sontak, Dandi merasa sangat malu atas sikap anaknya. Karena itu, ia pun lekas-lekas menghabiskan bubur dipiringnya, agar ia bisa cepat-cepat pulang sebelum luapan emosi sang anak membuatnya semakin malu.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

4 Alasan Siswa Memilih Gap Year Saat Melanjutkan Pendidikan

Milenianews.com - Tahukah sobat milenia apa itu Gap Year? Istilah ini menggambarkan siswa yang tidak langsung melanjutkan pendidikan formal, setelah lulus SMA/SMK sederajat. Banyak...

Nokia akan Luncurkan Tablet Dengan Prosesor Unisoc

Milenianews.com - HMD Global, perusahaan asal Finlandia yang berafiliasi dengan Nokia, mengumumkan akan menggelar acara peluncuran pada 6 Oktober 2021 mendatang. Nokia meluncurkan pengumuman ini melalui...

‘Changed’, Cara Naykilla Ubah Kekecewaan Jadi Motivasi Untuk Cintai Diri

Milenianews.com, Jakarta - Industri musik di Indonesia semakin ramai dengan kedatangan musisi wanita dengan ciri khas musiknya hingga warna vokal yang ia punya. Musisi...

Dokumenter Kasus Britney Spears Akan Tayang di Netflix

Milenianews.com - Netflix berencana akan merilis film dokumenter tentang kasus Britney Spears yang berjudul "Britney vs Spears" pada 28 September 2021 mendatang. Film dokumenter ini berfokus pada kasus konservatori...