Milenianews.com, Jakarta – Penyair legendaris Indonesia, Sapardi Djoko Damono baru saja merilis kitab puisi terbarunya. Karyanya ini dinamakannya Perihal Gendis yang dirilis saat mengisi perhelatan The Readers Fest pada 6 Oktober 2018 lalu.

Perihal Gendis ditulis oleh Eyang Sapardi pada masa pemulihannya setelah sempat hampir sebulan dirawat di rumah sakit beberapa waktu lalu.

ADOP

Antologi puisinya kali ini berisikan 15 puisi panjang yang sebagian isinya mengisahkan Gendis, gadis remaja beranjak dewasa yang berteman dengan sepi.

Menariknya, dalam kitab puisinya kali ini, Sapardi juga menghadirkan ilustrasi abstrak penuh warna di beberapa halaman yang lahir dari tangannya sendiri.

Lewat sudut pandang gadis usia 12 tahun, Gendis dalam heningnya tak jarang akan berdialog dengan apapun yang ada di dekatnya. Segalanya seolah ingin mengatakan sesuatu pada Gendis, gadis lugu yang di rumah sendirian, ayahnya pamit pergi ke selatan dan ibunya bilang menyusul ke utara.

Sapardi sebagai pujangga seperti sudah menemukan ciri untuk dirinya sendiri. Tiap puisi menghadirkan sosok penyairnya dengan amat jelas. Bukan puisi yang menggebu, namun yang sederhana penuh makna. Pun demikian dengan puisi-puisi dalam Perihal Gendis.

Sapardi menjadi pujangga yang akan bercerita tentang hal-hal yang ada di sekitarnya. Bercerita tentang hal-hal yang kadang tidak kita sadari andilnya. Belum lagi cerita menampar perihal Tuhan, kehilangan, atau juga kenangan.

Perihal Gendis menjadi berbeda, sebab disebut kitab puisi dan bukan kumpulan puisi ataupun sepilihan sajak seperti buku-buku sebelumnya. Disebut dengan kitab, akibat di dalamnya memiliki satu fokus, yakni si Gendis.

Selain berkisah tentang sepinya seorang Gendis, sebagian lainnya akan berbicara tentang waktu dan juga kematian dengan cara yang indah.

Puisi dalam Perihal Gendis bagai sebuah renungan dalam pencarian jati diri. Tentu akan kurang nikmat rasanya jika hanya sepintas disesapi. Karena sejatinya puisi tetaplah alat penyampai pesan, meskipun apa yang diisyaratkan penyair belum tentu sama dengan yang dimaknai pembacanya.

Sebab itulah, pada satu waktu sang empu ratusan puisi ini pernah berpesan, ”Puisi itu untuk dinikmati, nggak usah mikir ini artinya apa itu artinya apa, nikmati saja.”(AFR)

Sumber: gramedia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here